January 14, 2016

Antara Aku, Mereka, dan Filsafat

Dalam postingan ini, saya rangkum keseluruhan refleksi kuliah Filsafat Pendidikan Matematika bersama Pak Prof Marsigit dalam kelas Pendidikan Matematika A 2012:

Dalam kuliah pertama bersama Pak Prof Marsigit dalam matam kuliah Filsafat Pendidikan Matematika, beliau menerangkan tentang berbagai macam cabang-cabang filsafat yang ada. Beliau juga menjelaskan filsafat dari analogi menggoreng tempe. Hal ini unik karena ternyata mata kuliah yang saya kira akan rumit, dapat dijelaskan melalui cara menggoreng tempe meski hanya secara umum saja. Pak Prof Marsigit juga menjelaskan bahwa untuk memulai mempelajari Filsafat Pendidikan Matematika, mahasiswa haruslah mengenal apa itu filsafat terlebih dahulu karena objek yang dipelajari dalam filsafat begitu banyak dan selebihnya akan menyesuaikan. Pak Prof Marsigit berharap sebagai mahasiswa haruslah banyak membaca, terutama dalam mempelajari filsafat. Filsafat adalah ilmu yang dapat dipahami dengan banyak membaca agar mahasiswa tidak menjadi manusia yang berada dalam tempurung. Oleh karena itu, seperti khas Pak Prof Marsigit, beliau mengarahkan kami untuk terus membaca artikel-artikel dalam blog beliau, melakukan comment, dan membuat refleksi perkuliahan.

Pak Prof Marsigit membiasakan mahasiswa untuk melakukan tanya-jawab dalam setiap pertemuan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa akan dijawab Pak Marsigit dengan sabar dan detail. Selain tanya-jawab dan tes singkat, alasan Pak Prof Marsigit membuat elegi-elegi dalam blognya adalah untuk memudahkan mahasiswa dalam memahami filsafat. Menurut beliau, sepandai-pandainya orang yang berfilsafat adalah yang mudah dipahami orang awam. Filsafat mempedulikan ruang dan waktu, maka jangan heran ketika ada SALAH yang BENAR dan ada BENAR yang SALAH. Maka berfilsafat itu harus melihat dan memahami ruang dan waktu. Dalam mempelajari filsafat, mahasiswa tidak boleh hanya memikirkan cara efektif untuk belajar filsafat karena efektif mengandung unsur memaksa. Pak Prof Marsigit menyampaikan bahwa tidak ada cara yang paling baik untuk mendidik selain dengan multimethod dan multicara.

Pak Prof Marsigit selalu melakukan tes jawab singkat dalam tiap pertemuan. Dengan tes jawab singkat ini diharapkan mahasiswa menyadari bahwa belajar itu harus kontinu dan tidka bisa belajar secara cepat dan instan. Karena banyak mahasiswa yang belum memahami makna tersirat dari Pak Prof Marsigit, maka banyak dari mahasiswa yang mendapatkan nilai 0 untuk setiap tes jawab singkat. Selain itu, Pak Prof Marsigit juga membahas apa yang sudah muncul dari tes jawab singkat sehingga ini memudahkan mahasiswa untuk mengetahui apa yang sebelumnya tidak diketahui dan untuk selalu belajar dari kesalahan. Pak Prof Marsigit menjelaskan istilah-istilah dalam filsafat disertai contoh-contoh sehingga filsafat tidak hanya menjadi abstrak dalam pikiran mahasiswa.

Karena mata kuliah ini berjudul Filsafat Pendidikan Matematika, maka apa yang disampaikan Pak Prof Marsigit tentang filsafat akan selalu berkaitan dengan Pendidikan Matematika, misal tentang bagaimana cara mengkomunikasikan matematika pada siswa saat pembelajaran dengan materi yang abstrak. Pak Prof Marsigit menekankan bahwa komunikasi itu sangatlah penting. Jika ingin melakukan pembelajaran yang sukses maka pembelajaran tersebut harus menyesuaikan ruang dan waktu. Didukung dengan komunikasi yang sehat maka akan tercipta kelas dengan situasi yang kondusif untuk belajar dan membelajarkan. Pak Prof Marsigit juga menerangkan bahwa metode yang baik dan tidak memicu adanya perbudakan adalah metode yang melayani dan berorientasi pada siswa.


Banyak hal yang dapat saya ambil dari perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika oleh Pak Prof Marsigit. Semoga kuliah ini menjadi manfaat untuk saya, teman-teman saya, dan masa depan kami. Dan semoga ini semua dapat menjadi amal kebaikan bagi Pak Prof Marsigit yang sudah dengan sabar membimbing mahasiswa dalam mengampu mata kuliah ini. Semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT.

Jangan lupa kunjungi blog Pak Prof Marsigit:
powermathematics.blogspot.com

Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, Hermeneutika, Phenomenologi: Matematika dan Pendidikan Matematika

Filsafat Matematika dan Pendidikan Matematika:
Jawaban dari soal-soal ujian Filsafat Pendidikan Matematika

1
Jelaskan apa yang dimaksud Ontologi Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos yang berarti ilmu. Adib (2010: 70) mengatakan, “Argumen Ontologi pertama kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM) dengan teori ideanya. Idea yang dimaksud oleh Plato adalah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu”. Dengan kata lain, Ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud dengan berdasarkan logika semata. Sedangkan menurut Adib (2010: 68), landasan Ontologi adalah tentang objek yang ditelaah ilmu sehingga tiap disiplin ilmu memiliki landasan Ontologi yang berbeda. Salah satunya adalah bidang ilmu matematika.
“Ontologi matematika berusaha memahami keseluruhan dan kenyataan matematika, yaitu segala matematika yang mengada.” (Marsigit, 2015: 95). Karena Ontologi matematika adalah berusaha memahami kenyataan matematika, maka diperlukan suatu pendekatan Ontologis untuk mengetahui bagaimana wujud kenyataan matematika tersebut. Menurut Marsigit (2015: 95 dan 96), awal dari usaha pendekatan Ontologis adalah mencari pengertian menurut akar dan dasar terdalam dari kenyataan matematika sehingga pendekatan Ontologis berusaha memikirkan kembali pemahaman paling dalam tentang kenyataan matematika yang telah termuat di dalam kenyataan diri serta pengalaman konkretnya.
Dari pemaparan di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa Ontologi Matematika adalah objek yang ditelaah dalam matematika atau disebut kenyataan matematika. Sedangkan contoh dari Ontologi Matematika yaitu segala pengertian pangkal, definisi, aksioma, dan teorema-teorem yang diturunkan dari aksioma tersebut serta teori-teori ilmuwan beserta metode-metode penemuannya. Selain itu, Ontologi Matematika dapat berupa konsep pengetahuan matematika yang dibangun dalam pemikiran pelaku matematika berdasarkan pengalaman akan adanya objek matematika yang konkret dan objek matematika sebagai mengada.
2
Jelaskan apa yang dimaksud Epistemologi Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Sehingga Epistemologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Menurut Adib (2010: 74), Epistemologi adalah cabang fisafat yang disebut juga teori pengetahuan dan membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan, hakekat pengetahuan, dan sumber pengetahuan. Dengan kata lain, Epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata-cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan.
Menurut Keith Lehrer, secara historis terdapat tiga perspektif dalam Epistemologi yang berkembang di Barat, yaitu Dogmatic Epistemology, Critical Epistemology, dan Scientific Epistemology. Dalam perspektif Epistemologi dogmatik, setelah realitas dasar diasumsikan ada, baru kemudian ditambahkan Epistemologi untuk menjelaskan bagaimana kita mengetahui realitas tersebut. Lain halnya dalam perspektif Epistemologi kritis yang membalik Epistemologi dogmatik dengan menanyakan apa yang dapat kita ketahui sebelum menjelaskannya. Sedangkan Epistemologi saintifik perspektif Epistemologi dogmatik dan kritis dianggap sama (equal).
Dari pemaparan di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa Epistemologi Matematika adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah hingga diperolehnya ilmu matematika. Tata-cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu matematika adalah dengan metode matematika, dan metode matematika dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu metode non-ilmiah, metode ilmiah, dan metode problem solving. Contoh dari Epistemologi Matematika saya ambil dari metode non-ilmiah. Metode non-ilmiah dalam matematika adalah prosedur untuk mengkaji ilmu matematika yang diperoleh dengan cara penemuan secara kebetulan, trial and error, common sense, prasangka, otoritas, dan pengalaman biasa. Hal ini diterapkan pada ilmuwan-ilmuwan masa lampau yang menelaah ilmu matematika setelah menetapkan Ontologi Matematika.

3
Jelaskan apa yang dimaksud Aksiologi Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu axios yang berarti sesuai atau wajar dan logos yang berarti ilmu. Adib (2010: 78) mengatakan bahwa, “Aksiologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang orientasi atau nilai suatu kehidupan.”
Aksiologi disebut juga teori nilai karena ia dapat menjadi sarana orientasi manusia dalam usaha menjawab suatu pertanyaan yang amat fundamental, yakni “Bagaimana manusia harus hidup dan bertindak?”.
Dalam ilmu matematika, menurut Marsigit (2015: 156), pendekatan Aksiologis mempelajari secara filosofis hakekat nilai atau value dari matematika. Hal tersebut dikuatkan Adib (2010: 69) yang menyampaikan bahwa landasan Aksiologi berhubungan dengan penggunaan ilmu tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.
Dari pemaparan di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa Aksiologi Matematika adalah ilmu yang menyoroti masalah nilai dan kegunaan ilmu matematika. Menurut Hartman (dalam Marsigit, 2010: 157), nilai matematika paling sedikit memuat empat dimensi: matematika mempunyai nilai karena maknanya, matematika mempunyai nilai karena keunikannya, matematika mempunyai nilai karena tujuannya, dan matematika mempunyai nilai karena fungsinya. Salah satu contoh dari Aksiologi Matematika yaitu nilai matematika karena keunikannya. Matematika adalah disiplin ilmu yang mempunyai sifat khas dibandingan disiplin ilmu lainnya. Matematika dipandang sebagai ratu ilmu atau sederhananya ilmu yang mendasari ilmu lain. Inilah yang membuat matematika itu unik karena matematika tidak diturunkan dari ilmu lainnya. Karena keunikannya ini, matematika memiliki kegunaan untuk menjadi bahasa ilmu pengetahuan bagi ilmu lainnya.
4
Jelaskan apa yang dimaksud Ontologi Pendidikan Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Pengertian Ontologi telah dipaparkan dalam jawaban nomor 1. Ilmuwan lain yang mengajukan argumen Ontologis adalah St Augustine (453-430 M). Adib (2010: 71) mengatakan bahwa “Menurut Augustine, manusia mengetahui dari pengalaman hidupnya bahwa dalam alam ini ada kebenaran.”. Ontologi secara sederhana dapat dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
Karena diversivikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya, maka disiplin ilmu Pendidikan Matematika mempunyai landasan Ontologi yang berbeda dengan ilmu Matematika. Selain pendekatan Ontologis, kajian dalam filsafat ini juga menyebutkan adanya kesadaran Ontologis yang secara lengkap disampaikan Marsigit (2015: 96) sebagai berikut:
 “Kesadaran Ontologis berusaha merefleksikan dan menginterpretasikan kenyataan matematika kemudian secara implisit menghadirkannya sebagai suatu pengetahuan yang berguna dalam pergaulan dengan orang lain serta secara eksplisit dapat dirumuskan dalam bentuk-bentuk formal untuk mendapatkan tema-tema yang bersesuaian.”
Dari pemaparan di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa Ontologi Pendidikan Matematika adalah objek yang ditelaah dalam pendidikan matematika yang dipahami keseluruhan isinya secara konkret dan mengada dari pengalaman hidup manusia. Contoh Ontologi Pendidikan Matematika adalah konsep diri guru, konsep diri siswa, hubungan komunikasi guru ke siswa atau siswa ke guru baik secara material, formal, normatif, maupun transenden.
5
Jelaskan apa yang dimaksud Epistemologi Pendidikan Matematika dan berilah contohnya.

Pengertian Epistemologi telah diuraikan dalam jawaban nomor 2. Menurut Adib (2010: 75), Epistemologi adalah bagian dari filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menanyakan apa yang dapat kita ketahui sebelum menjelaskannya.
Dalam tiga perspektif Epistemologi menurut Keith Lehrer, pada Epistemologi dogmatik dimunculkan pertanyaan “Apa yang kita ketahui? Lalu bagaimana cara kita mengetahuinya?”. Lain halnya pada Epistemologi kritis, pertanyaan utama Epistemologi ini yaitu: “Apa yang dapat kita ketahui? Dapatkah kita mengetahuinya?”. Sedangkan pertanyaan yang dimunculkan pada Epistemologi saintifik adalah: “Apa yang benar-benar sudah kita ketahui dan bagaimana cara kita mengetahuinya?”.
Dari pemaparan di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa Epistemologi Pendidikan Matematika adalah cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah hingga diperolehnya ilmu pendidikan matematika
Contoh dari Epistemologi Pendidikan Matematika saya ambil dari metode ilmiah. Metode ilmiah dalam pendidikan matematika adalah prosedur mengkaji ilmu pendidikan matematika dengan memperoleh pengetahuan melalui pendekatan deduktif dan induktif. Pendekatan deduktif adalah pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Sedangkan metode pendekatan induktif menekankan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut.
6
Jelaskan apa yang dimaksud Aksiologi Pendidikan Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Pengertian Aksiologi telah diuraikan dalam jawaban nomor 3. Secara moral dapat dilihat apakah nilai dan kegunaan suatu ilmu berguna untuk peningkatan kualitas kesejahteraan dan kemashlatan umat manusia atau tidak. Sedangkan Aksiologi Pendidikan Matematika adalah ilmu yang menyoroti masalah nilai dan kegunaan ilmu pendidikan matematika. Oleh karenanya, kita perlu menyoroti apakah nilai dan kegunaan ilmu pendidikan matematika dapat meningkatkan kualitan kesejahteraan dan kemashlatan umat manusia atau tidak.
Karena nilai matematika memuat empat dimensi seperti yang dipaparkan pada nomor 3, maka saya ambil contoh Aksiologi Pendidikan Matematika yang bersesuaian dengan nilai matematika yaitu nilai pendidikan matematika karena tujuannya. Kita memahami bahwa pendidikan ada untuk membelajarkan, dan membelajarkan dirancang melalui proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran adalah untuk mendidik siswa sekaligus mengembangkan potensi guru sebagai fasilitator bagi siswa. Inilah yang saya maksud Aksiologi Pendidikan Matematika bahwa ilmu pendidikan matematika mempunyai kegunaan untuk mencerdaskan anak bangsa dalam bidang ilmu matematika. Dan ilmu matematika maupun pendidikan matematika dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
7
Jelaskan Hermenitika Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Istilah hermenitikan secara etimologis datang dari bahasa Yunani hermeneuen dan hermeneia yang secara sederhananya berarti menafsir dan penafsiran, mengungkapkan dan pengungkapan. Menurut Alwasilah (2008: 126), beberapa prinsip faham Hermenitika yaitu: Hermenitika berkonsentrasi pada maka dan maka ada pada bahasa sebuah tradisi; bahasa adalah pusat kekuatan manusia dan tanpa bahasa tidaklah mungkin memahaminya; Hermenitika menekankan pemahaman dan komunikasi; dalam tradisi Hermenitika subjek dna objek tidak dipisahkan tetapi malah terlibat hubungan komunikatif; tujuan akhir dari Hermenitika adalah pemahaman yang lebih baik atau pemaknaan dari interaksi berbagai konstruksi yang sudah ada lalu dianalisis agar lebih mudah difahami pihak lain, sehingga akhirnya dicapailah sebuah konsensus.
Dari pemaparan di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa Hermenitikan Matematika adalah memahami dan pemahaman matematika. Dari apa yang diuraikan oleh Alwasilah di atas, salah satu prinsip faham Hermenitika adalah subjek dan objek tidak dipisahkan tetapi malah terlibat dalam hubungan komunikatif. Hal tersebut adalah contoh dari Hermenitika Matematika bahwa subjek matematika yaitu pemikir matematika dan objek matematika tidak dapat dipisahkan. Kedua hal ini berkaitan satu sama lain dalam hubungan komunikatif baik secara material, formal, normatif, maupun transenden.
8
Jelaskan Hermenitika Pendidikan Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Pengertian Hermenitika telah diuraikan pada jawaban nomor 7. Gusmao (2013: 215) mengatakan bahwa, “Filsafat Hermeneutika sebagaimana yang ditawarkan oleh Gadamer berpuncak pada gagasan bahwa pengada yang bisa dipahami adalah bahasa.”
Dikuatkan oleh prinsip-prinsip faham Hermenitika oleh Alwasilah, penguraian tersebut menunjukkan bahwa filsafat Hermenitika begitu mengagungkan sebuah bahasa. Salah satu prinsip faham Hermenitika menurut Alwasilah yaitu Hermenitika menekankan pemahaman dan komunikasi dan melalui bahasa manusia berupaya untuk mendapatkan pemahaman berjamaah. Dari hal ini saya ambil contoh Hermenitika Pendidikan Matematika adalah memahami dan menekankan pemahaman serta komunikasi dua arah antara guru ke siswa maupun siswa ke guru dalam proses pembelajaran agar mendapatkan pemahaman berjamaah. Karena komunikasi yang baik dalam pembelajaran adalah komunikasi yang berjalan dua arah, maka guru tidak seharusnya membatasi diri untuk dapat memahami bahasa siswa dalam mempelajari matematika dan siswa tidak selayaknya membatasi diri untuk terus membangun pemahaman konsep ilmu matematika dalam dirinya.

9
Jelaskan Phenomenologi Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Phenomenologi berasal dari bahasa Yunani phainomenon yang berarti tampak dan logos yang berarti ilmu. Dengan demikian, Phenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Phenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan fenomenon atau segala sesuatu yang menampakkan diri. Maksum (2014: 368) mengatakan bahwa, “Secara harfiah, Fenomenologi adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa fenomena adalah sumber pengetahuan dan kebenaran.
Salah satu contoh dari Phenomenologi Matematika adalah penerapan matematika dalam kehidupan real. Karena yang dituju oleh Phenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada di luar dirinya, dan hal ini hanya dapat dicapai dengan “mengalami” secara intuitif maka untuk mehamami matematika secara fenomenologi, matematika harus diterapkan dalam realita. Contohnya adalah matematika ilmu terapan yang diaplikasikan dalam bidang kesehatan, seperti mendeteksi penyebaran kanker. Karena pengaplikasian matematika ini, maka seseorang “mengalami” secara intuitif namun tetap mehamai objek matematika secara konkret maupun abstrak.
10
Jelaskan Phenomenologi Pendidikan Matematika dan berilah contohnya.

Jawab:
Pengertian Phenomenologi telah diuraikan pada jawaban nomor 9. Menurut Hakim dan Saebani (2008: 404), dalam praktik hidup sehari-hari, kita tidak memperhatikan penampakan itu karena apa yang kita lihat secara spontan sudah cukup meyakinkan kita bahwa objek yang kita lihat adalah real atau nyata. Mereka menambahkan bahwa kita telah meyakininya sebagai realitas di luar diri kita, tetapi karena yang dituju oleh Phenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada di luar dirinya, dan ini hanya dapat dicapai dengan “mengalami” secara intuitif, apa yang kita anggap sebagai realitas dalam pandangan biasa itu, untuk sementara harus ditinggalkan dan segala subjektivitas disingkirkan.
Memahami uraian di atas, saya ambil contoh Phenomenologi Pendidikan Matematika yaitu pembuktian suatu rumus matematika yang diuraikan secara sistematis oleh guru kepada siswa maupun oleh bimbingan guru kepada usaha siswa untuk menemukannya. Matematika adalah ilmu yang membutuhkan pembuktian dan analisis, oleh karenanya penting bagi guru untuk dapat membimbing siswa dalam menemukan sendiri darimana suatu rumus berasal sehingga dalam pembelajaran matematika siswa tidak hanya dituntut untuk menghafalkan rumus namun bisa mengerti darimana rumus itu berasal. Hal ini menunjukkan bahwa siswa “mengalami” secara intuitif.


DAFTAR PUSTAKA

Adib, Mohammad. 2010.  Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Alwasilah, A Chaedar. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Gusmao, Martinho. 2013. Hans-Georg Gadamer: Penggagas Filsafat Hermeneutik Modern yang Mengagungkan Tradisi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Hakim, Atang A., dan Beni Ahmad Saebani. 2008. Filsafat Umum: dari Metologi sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia.
Maksum, Ali. 2014. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Marsigit, dkk. 2015. Filsafat Matematika dan Praksis Pendidikan Matematika. Yogyakarta: UNY Press.


Jangan lupa kunjungi blog Pak Prof Marsigit:

December 31, 2014

miss us as always





Kalian adalah orang-orang yang akan aku ceritakan kelak, saat nanti anak-anakku bertanya cinta itu seperti apa.
Terimakasih untuk 365 hari yang luar biasa. Terimakasih untuk menjadi pohon-pohon terkuat yang tersisa setelah banyak badai menghampiri.
Jangan bersedih, tak boleh ada air mata, karena kita dipisahkan untuk dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih baik dari ini.
Jaga rindu kalian baik-baik, karena apalagi yang dapat mempertemukan kita selain rindu yang sama-sama kita jaga.
Selamat jalan untuk masa depan, sampai jumpa dicerita lainnya. Teruslah menguat dan menjadi hebat!
"menginspirasi dengan hati, peduli dengan aksi." - HIMATIKA 2014

October 28, 2013

HIMATIKA FMIPA UNY PROUDLY PRESENTS


1. HIMATIKA CONCERT (HTC)
      guest star: FSTVLST - ERWE Band - Nafasurban - and more
    Thursday, November 7th | at Auditorium UNY
    open gates: 3.30 pm
    festival: 20k | vip: 25k | available on the spot
    ticket box: Secretariat HIMATIKA FMIPA UNY | Unisi | Kedai 24 |
    Papiti | Cupajo | Movie Box (Seturan)
    ::NO DRUGS::NO DRINK::NO SMOKE
    ::50% profit for social activity::
    more info: @melody_uny | 089669923599 (Musyafa)



    2. AKSI SOSIAL (AKSOS)
            "Semangat Beraksi, Indahnya Berbagi"
        Sabtu-Minggu, 16-17 November 2013
        Dusun Magerejo, Desa Ngalang, Kec Gedangsari, Gunung Kidul,
        Yogyakarta

        Menerima sumbangan dalam bentuk:
        - Uang
        - Pakaian layak
        - Sembako/bahan makanan
        - Buku pelajaran; buku bacaan; buku tulis
        - Alat sekolah

       Sumbangan dapat disalurkan di Sekretariat HIMATIKA FMIPA UNY
       atau bisa kami jemput.
       Paling lambat 9 November 2013.

       Info: 085743818136 (Najib)


        

June 18, 2013

Refleksi Task Online 5

Title: Elegi Menggapai Kategori
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

Of elegy above we can see that our knowledge consists of the categories. The category includes four issues of quantity, qualitative, relationships and modalities. Quantity category consists of three aspects, namely universal, particular, and singular. Category consists of qualitative aspects of affirmative, negative, and infinite. Relationship category also consists of three aspects, namely category, hypothetical, and the community. The last category is modality, consists of aspects of probability, asetorik, and mathematics.

All that things help us in developing our knowledge to be useful to ourselves and others.

Title: Elegi Menggapai Reduksi
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

A reduction serves to simplify things so that there is no exaggeration in understanding it. Reduction helps us understand the properties of a thing in general. Such as the white-haired man said, that the reduction is a method of thinking that goes along with simplification and abstraction. In having an understanding of one thing, we should not use that knowledge lightly.

Title: Elegi Menggapai Tetap
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

All things in this world has two properties, that is the nature of remain and the nature of changing. Remain definitely fixed, and change certainly changed. All things are definitely fixed dimension. Only Allah who has the absolute determination. Every thing also has its resolve each, there is the so-called fixed nature, the principles remain, remain, remain there, and others.

Title: Elegi Konferensi Kebenaran
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

A truth it must be the basis for an action or thought. We rely on the truth as to the direction in which true knowledge. Truth is a really in truth, no false nor wrong. Truth is needed in all aspects of life. As well as the absolute truth of Allah. He was The All-True, Knowing The Truth.

Title: Elegi Konferensi Para Keliru
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

As humans who has limitations, we certainly have made ​​mistakes, even often. Either mistaken in speaking, in hearing, in thinking, in the work, and so on. We should make the mistakes become a valuable lesson to do the same thing next day. We can make a mistake as a teacher undirectly, so that in the future we know what is right and wrong. So if it is wrong, then we will not repeat it again.

Title: Elegi Konferensi Para Beda
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

Things that exist in this world would have been different. Although some things have differences of sight, so it looks almost the same, but we are sure that they will have a different. Difference and diversity exist almost in every aspect there is. In education, differences in the character of students is a challenge that must be faced by teachers. A difference should not be forced, should not be suppressed, can not be changed in order to be same. Let different still different, provided it remains on the right track. If these differences can be minimized, then we can do it. Make a difference to the strength and advantages.

Title: Elegi Konferensi Para Tepat
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

As in Elegi Para Beda, every thing must have a minimum of a difference. So also with the remains. It still have sub categories remain which different from one another. There is remain of time, remain of choose, remain of command, and others.

Title: Elegi Konferensi Para Sama
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

Everything is different, but there are times when it is close to the same, even can be said the same. One thing that is absolutely the same is our position in front of Allah. So, we should not feel the most different when it comes to the way Allah’s view.

Title: Elegi Konferensi Para Banyak
By: Prof. Dr. Marsigit, MA
Source: powermathematics.blogspot.com

An explanation of thought and sometimes be complex. It is true, humans have limitations in thinking. However, when Allah wills that we are allowed to understand a thing, then it certainly will happen. Such as the delivery of thought by a lot. We will be more able to understand that one is in fact not one, but one is one of the many members of the many. This stuff is what we need to reflect that knowledge we can growing.


June 13, 2013

Implementation of Character in English for Mathematics Education (Last Reflection)

Bismillahirrohmanirrohim.
This is the last reflection lecture in English lesson with Prof. Dr. Marsigit, MA. One semester has passed, lectures English has some message and note that given by Mr. Marsigit as a preparation for our present and future as a teacher of mathematics. This is english for mathematics education, so it's very important learning about english for mathematics education in order to be able to communicate mathematics education. Mathematics education not only consist of two words, that is mathematics and education, but also a determination, integrity, or a worldwide phenomenon and a complete and complicated in all aspects. There are many components and factors in the world of mathematics education, such as teachers, students, props, curriculum, and others.
During this English lecture, Mr. Marsigit convey his appreciation to us for the hard work in making our reflections. This reflection should continue to collect points. Although actually collecting points only as an intermediary, while the main goal that we used to write, to express the idea through hand-writing in english. Reflection also contains a message that is continuously learning, everytime, anytime. About the website and make our own reflections have a function that is to educate us. Though we will gets a Philosophy lecture and we will read Mr. Marsigit’s website again, but it will be different because this time we read it in the area of English. We also learn to express our opinions that are not under pressure. This is important, because the optimal learning is learning in an atmosphere of calm, happy, to be in the high motivation and without pressure. We were told to never be afraid of learning, may be allowed a few moment of fear, but do not let that fear control us. It would be better if we’re studying outside the classroom than studying in the classroom to reduce the negative effects of fear. Possible scary lecturers factor.
We need to know that everything is dimensionless. Dimension of science, dimension of water. For example, high levels of water will be steam, low levels of water will be ice. There is a high level of knowledge, there is a low level of knowledge. There are people who think a high level, there is also a low-level thinking. So does mathematics education. With a lot of reading articles of Pak Marsigit, then we are in sync and aligned in the lecture, because a lot of knowledge that given by Mr. Marsigit give through his article.
Mathematics for college is formal mathematics or can be said mathematics as a science. But the low mathematics is mathematics for children haas different definitions. For a child, science is an activity, not a definition. Never mind the kids, sometimes we had a lot of knowledge that can not be defined. An example is love. No one can define what love is, except scripture. Never mind the students, whereas we were not able to define the concept of long, short, big, small, far, near, and so on. Only people who are narrow-minded if they want to define everything. We must realize that the mathematics for young children is defined as an activity. School mathematics is an activity for patterns or relationships, problem solving activities, investigative activities, and communication activities. Notions about the concept of long, short, big, small, and so on can be obtained through intuition. We can not define what it was long, but we understand the concept of length. Then it is called intuition. In intuition, we do not know about when we understand a concept. Problem of studying mathematics for children in their school comes from adult people who does not understand. A child is innocent because the people who do not have the power is not guilty. Someone who has the power of the one who can be blamed, for example teachers and parents. So, do not blame the students who are not interested or who have low ability or lack of talent, because the behavior of the blame just as masks for adults to cover up his weaknesses.
Through the english there is the message delivered. Perhaps if only to learn grammar or tense would have been automatic. But because language is life, so the best way to learn is to imitate. Mimicking of those already expert in English, as native speakers, listening from video or audio. Do not study just one source, it's too monotonous.
Mr. Marsigit said that his problem as same as  another teacher problem, it is how to facilitate students. Serving of the many students can not use the traditional method. Using these methods will only hassles and unreliable. Fortunately, there is website that when Mr. Marsigit can not teach, we still can learn English through the internet. His english is not very structure. Because the life is not always systematic. That is the difference between the exact sciences and the humanities sciences. If we are not familiat, it will bother.
Innovative teacher task is how to facilitate the students. Student need to learn mathematics english. It should 'need' from students, there should be the need of the students. If there is no willingness from us, so the mountain of science in the right and left Mr. Marsigit’s shoulder only be in vain, there is no point because we like to escape. Similarly, if one day we became teachers, if we are to teach the principles of provision then it's just nonsense. However, if students are already aware, please, and a little motivated so the students will be looking for by themselves. They will ask again. So a lot of theories related to mathematics education, then let us have principles. If we do not have the principle so our life will oscillate. Same with learning theory, if in this case we do not have principles, we will not know which one synchronous learning theory, which is innovative. Moreover, if we write a thesis as a final project we have to spell out the basic theory. Theoretical basis that must be in sync.
Consciously or unconsciously we are building a community of our world, the world community to build English with Mr. Marsigit as lecturers. Because this is a world, then we must be comprehensive in looking at education. We have to see from many sides, not only partial. The only solution is a lot of reading, so we have a lot of insight. When we get to the concept of the nature or essence, when people had read a lot and learn, then that person has the same nature. Everyone has their own nature, so there are the nature of subjective and objective nature. Subjective nature should be through interaction, one of them with a lot of reading. If we do not read much, then we would essentially displaced others, then its name tossed around. We will not know the developments that happen out there.
Have the establishment is when we write a scientific paper, writing paper all theory doesn’t put together at random. For example about psychology. Back when people still primitive way is to use psychological testing animals, for example dogs. When dogs are given food, it will come out saliva. That was the stimulus response. Today, psychology stimulus response is no longer appropriate. If in the context of the lecture, we are not only affected by the Mr. Marsigit of our whole life. When Mr. Marsigit provide stimulus with A, not always we will respond with B, the response would different depend on every student. So that when the teacher makes certain stimulus to the students, the students do not necessarily provide an appropriate response to what the teacher expected. Nowadays it is unpredictable era, the era which are difficult to estimate. Then the stimulus response method is no longer appropriate. Such methods have been replaced with the appropriate. Unpredictable era has characteristics which many unexplainable events. The only solution is to access as much information, then filtered with our religion.
Similarly, in the English is how the values ​​of the character can be developed. If we want to explore the characters are at least 3 levels. The first is the character for ourself, the lowest character, which is good only for ourself. If we want to improve our character, then we have to think either that apply to others as well. And if we want to increase it again, then we can contribute to the good of the institutional or networking. Our kindness will flow to all parts of the world. Be the dean, be president, and so on. Due to the kindness of a leader will be more distributed than just being a member.
English can be considered formally and informally. As formal that is exams in the lecture, but may informally through english course. From now we've had to target the TOEFL score. Life is getting harder for many people who were also enrolled as us. Even more difficult to be a professor. To become a lecturer now we should have S2 title. Finding a job is not easy. Life is a competition. 80% effort our fate is determined by the ability of the English language. So Mr. Marsigit hopes we have 550 for TOEFL score. TOEFL is a reflection of the frequent reading experience. Moreover, as a young people we have high memory. In addition, high intelligence. People who have high intelligence can be seen from ressistance when they are thinking. So when they think constantly, he did not feel tired. However, another theory says that people who get bored also a creative person.
Some other message that Mr. Marsigit tell to us is we ought to learn to use learning resources that we can dug up anywhere and anytime. The lecture should be dynamic. During college do not monotonic in the studying method. The trick is to keep changing the way learning, try until it feels right. Moreover, the concept of this lecture is to communicate mathematics in english. Universal big problem for all people who has experienced is accountability. We are trusted by anyone and by anything. And we also believe to anyone and to anything. Example of accountability, that we are trusted by our parents that our parents sent money every month. As another example, we believe Mr. Marsigit, we believe the faculty, we believe the university so that's why we follow all these lectures. We must train and learn basic pronunciation. This is an important thing needed in speaking.
So accountability is everything. God also see how we worship, accountable or not. One time a teacher will always be asked accountability. One of the teachers who have high accountability is a japanese person, because the way of teaching can be watched all over the world. Education in Indonesia does not have a scheme like that, so Indonesia has the low accountability. Accountable characteristic is transparent, in addition to the rules of the game are also evident. At least one expert who accompanied.

Mr. Marsigit hope that we can continue to make reflections as well as collection points for training in order to educate ourselves respectively.